Merger Reasuransi Ditargetkan Kurangi Defisit Transaksi
Pasardana.id - Industri reasuransi memperoleh premi sebesar Rp250 triliun per tahun. Namun, pencapaian ini dibarengi dengan impor jasa reasuransi akibat keterbatasan kapasitas.
Negara menanggung defisit transaksi berjalan sektor jasa keuangan sebesar Rp20 triliun setahun akibat langkah tersebut. Kejadian ini diharapkan menurun, akibat penggabungan perusahaan reasuransi.
Bahkan, Kepala Eksekutif Pengawasan Industri Keuangan Non Bank (IKNB) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Firdaus Djaelani menyebutkan, premi bisnis asuransi ke luar negeri mencapai sebesar Rp35 triliun pada 2015. Nilai ini membebani defisit transaksi berjalan dan potensi kehilangan pajak.
ââÅ¡¬ÃƒÆ’…Dengan penggabungan perusahaan reasuransi peluang bisnis reasuransi di dalam negeri dengan tambahan premi asuransi sebesar Rp12 triliun-Rp17 triliun,ââÅ¡¬ katanya, di Jakarta belum lama ini.
Asal tahu saja, belum lama ini, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menggabungkan PT Reasuransi Internasional Indonesia/ReINDO (Persero) dengan PT Reasuransi Indonesia Utama/Indonesia Re (Persero).
Sebelumnya, empat perusahaan reasuransi terdapat di Indonesia. Dua dari empat perusahaan itu merupakan anak usaha BUMN yang kerap bersaing mengenakan premi asuransi.
ââÅ¡¬ÃƒÆ’…Keputusan menggabungkan reasuransi, untuk bikin perusahaan reasuransi besar Indonesia,ââÅ¡¬ ucap Menteri BUMN, Rini Soemarno.
Adapun PT Indonesia Re diharapkan menjadi salah satu perusahaan reasuransi terbesar di Asia Tenggara pada lima tahun nanti. Saat ini, perusahaan reasuransi Indonesia hanya masuk tujuh besar di wilayah tersebut.
ââÅ¡¬ÃƒÆ’…Padahal, perusahaan reasuransi nasional Indonesia mempunyai daya saing di tingkat Internasional,ââÅ¡¬ ujarnya.
Sementara itu, penyebab perusahaan reasuransi tidak dapat bersaing, jelas Rini, akibat tidak mempunyai modal cukup. Oleh sebab itu, penggabungan dua perusahaan ini diharapkan mencapai kecukupan modal yang diharapkan.
ââÅ¡¬ÃƒÆ’…Pembentukan holding BUMN reasuransi diharapkan bisa menambah modal perusahaan tanpa membebani negara,ââÅ¡¬ ucapnya.
Frans Y. Sahusilawane, Direktur Utama PT Indonesia Re menambahkan, kehadiran perusahaan ini diharapkan meningkatkan pasokan kapasitas reasuransi di dalam negeri.
Selan itu, lanjut dia, perusahaan tersebut juga akan meningkatkan pengetahuan dan kapabilitas inovasi industri asuransi nasional, serta mengurangi arus reasuransi ke luar negeri.
ââÅ¡¬ÃƒÆ’…Untuk merealisasikan target itu, kami membutuhkan tiga sumber daya, yakni modal, pengetahuan dan teknologi,ââÅ¡¬ jelasnya.
Dari sisi permodalan, lanjut Frans, telah diperoleh komitmen dari pemerintah, berupa penyertaan modal negara (PMN) dan sinergi dengan BUMN lain bagi Indonesia Re. Nantinya, perusahaan reasuransi ini akan mendapat Rp500 miliar-Rp600 miliar.
Sedangkan Indonesia Re membutuhkan Rp15 triliun-Rp18 triliun pada 2021. Saat ini, Indonesia Re memiliki total ekuitas sekitar Rp2,3 triliun.
ââÅ¡¬ÃƒÆ’…Kami memperkirakan modal akan menjadi Rp3 triliun,ââÅ¡¬ ujarnya.
Tentang pengetahuan, sambung dia, akan dilakukan kapasitas perusahaan secara optimal dan teknologi diupayakan guna menunjang pertumbuhan dan mengatasi kerumitan risiko industri reasuransi.
Sementara itu, dari penggabungan Indonesia Re dengan ReINDO dimiliki dua anak perusahaan yakni PT Asuransi Asei Indonesia dan PT Reasuransi Syariah Indonesia (ReINDO Syariah).
Adapun pendapatan premi dipatok Indonesia Re sebesar Rp15 triliun-Rp18 triliun pada lima tahun nanti. Jika dibandingkan pencapaian saat ini, terjadi kenaikan tiga kali lipat.
Asal tahu saja, pembentukan holding BUMN Reasuransi merupakan bagian dari perwujudan Paket Kebijakan Ekonomi Maret 2015. Selain itu, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 77 Tahun 2015 Tentang Pedoman Organisasi Rumah Sakit.

