Danantara Pastikan Selalu Dukung GIAA Meski Kinerja Perusahaan Sedang Loyo

Foto : istimewa

Pasardana.id - Kinerja finansial Garuda Indonesia masih mengalami tekanan yang signifikan sepanjang tahun 2025.

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) melihat hal tersebut bukan tanpa sebab.

Managing Director Finance Danantara Asset Mannagement, Sahala Situmorang, mengaku telah berbicara dengan manajemen Garuda Indonesia, untuk mengatasi masalah terkait kinerja keuangannya.

Dua penyebab utamanya yakni, perang AS-Iran serta buruknya nilai tukar rupiah.

Pasalnya, perang hingga nilai tukar rupiah yang melemah langsung menghantam sisi arus kas manajenem.

Meski begitu, Danantara akan tetap berada di sisi Garuda Indonesia (IDX: GIAA) untuk membantu secara finansial.

“Tetapi yang pasti, kami ada disana untuk mendukung Garuda,” ujar Sahala di Jakarta, Kamis (23/4).

Pihaknya juga mulai berdiskusi dengan para pemikir strategi untuk menganalisa strategi apa untuk menghadapi dua persoalan ini dalam pengelolaan BUMN.

"Kami berbicara dengan para ekonom kami, apa skenario terburuknya, dan kami meminta mereka untuk menjalankan analisis sensitivitas tersebut. Jadi begitulah cara kami mengelola portofolio kami,” beber Sahala.

Selain itu, Danantara juga melakukan beberapa rangakaian tes terhadap strategi yang dijalankan oleh BUMN dalam menghadapi perang hingga pelemahan nilai tukar rupiah.

“Dan perang ini dimulai mungkin satu atau dua bulan yang lalu kemudian kami mulai melakukan uji stress. Dan tentu saja, uji stress ini sedikit berbeda,” ujarnya.

Sementara itu, Garuda Indonesia masih membukukan rugi bersih US$ 41,62 juta atau setara dengan Rp 707,49 miliar (dengan kurs Rp 16.998,8 terhadap dolar AS) pada kuartal pertama 2026. 

Namun, pendapatan perseroan naik menjadi US$ 762,35 juta dari US$ 723,56 juta secara tahunan atau year on year (YoY).

Pendapatan tersebut diperoleh dari penerbangan berjadwal sebesar US$ 648,10 juta, penerbangan tidak berjadwal sebesar US$ 24,98 juta dan pendapatan lain-lain sebesar US$ 89,27 juta. 

Seiring dengan pendapatan perseroan yang naik, beban usaha GIAA pun tercatat turun. 

Nilainya berkurang dari US$ 718,36 juta menjadi US$ 713,22 juta secara tahunan.

Penurunan terjadi karena beban operasional penerbangan ikut turun dari US$ 361,96 juta menjadi US$ 350,24 juta secara YoY. 

Kemudian beban umum dan administrasi juga berkurang dari US$ 42,01 juta menjadi US$ 47,81 juta secara tahunan.

Berdasarkan laporan keuangan tersebut, GIAA memangkas 128 karyawan pada kuartal 1 2026 menjadi 10.724 karyawan dari sebelumnya 10.852 karyawan pada 2025.