Volume SBN Diperdagangan Selasa Kemarin Senilai Rp19,90 Triliun dari 33 Seri
Pasardana.id - Volume perdagangan Surat Berharga Negara (SBN) pada perdagangan kemarin (09/10), mengalami peningkatan dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya, yaitu senilai Rp19,90 triliun dari 33 seri yang diperdagangkan dengan volume perdagangan seri acuan mencapai Rp6,87 triliun.
Dalam laporan riset yang dirilis Rabu (10/10/2018), analis fixed income MNC Securities, I Made Adi Saputra mengungkapkan, Obligasi Negara seri FR0077 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp5,72 triliun dari 170 kali transaksi di harga rata - rata 98,42% dan diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0075 senilai Rp2,91 triliun dari 66 kali transaksi di harga rata - rata 87,05%.
Sementara itu, Sukuk Negara Ritel seri SR008 menjadi Sukuk Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp600,81 miliar dari 22 kali transaksi di harga rata - rata 100,64% dan diikuti oleh perdagangan Project Based Sukuk seri PBS013 senilai Rp130,0 miliar dari 3 kali transaksi di harga rata - rata 99,52%.
Dari perdagangan surat utang korporasi, volume perdagangan dilaporkan senilai Rp1,10 triliun dari 43 seri surat utang yang diperdagangkan. Obligasi Berkelanjutan IV Adira Finance Tahap III Tahun 2018 Seri C (ADMF04CCN3) menjadi surat utang korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp200,0 miliar dari 2 kali transaksi di harga rata - rata 100,03% dan diikuti oleh perdagangan Obligasi Berkelanjutan III Waskita Karya Tahap III Tahun 2018 Seri A (WSKT03ACN3) senilai Rp150,0 miliar dari 2 kali transaksi di harga rata - rata 99,99%.
Sementara itu, nilai tukar Rupiah ditutup melemah sebesar 20,00 pts (0,13%) di level 15237,50 per Dollar Amerika setelah bergerak dengan mengalami pelemahan sepanjang sesi perdagangan di kisaran 15222,00 hingga 15284,00 per Dollar Amerika.
Pelemahan mata uang Rupiah seiring dengan pergerakan mata uang regional yang juga menunjukkan pelemahan terhadap Dollar Amerika dimana pelemahan mata uang regional dipimpin oleh mata uang Rupee India (INR) sebesar 0,38% yang diikuti oleh pelemahan mata uang Dollar Singapura (SGD) sebesar 0,19%.
Adapun pergerakan imbal hasil surat utang global pada perdagangan bergerak bervariasi dengan kecenderungan mengalami kenaikan.
Imbal hasil surat utang Jerman dan Inggris untuk tenor 10 tahun masing - masing ditutup dengan mengalami kenaikan di level 0,543% dan 1,715%.
Adapun imbal hasil US Treasury ditutup dengan mengalami penurunan, dimana untuk tenor 10 tahun ditutup pada level 3,212% setelah sempat mengalami kenaikan hingga level 3,250% di awal perdagangan dan untuk tenor 30 tahun ditutup pada level 3,373%.
Sedangkan imbal hasil surat utang India juga ditutup dengan kenaikan di level 8,065% begitu pula imbal hasil surat utang Singapura yang ditutup dengan kenaikan di level 2,639%.
“Dengan adanya penurunan harga Surat Utang Negara yang terjadi pada beberapa hari perdagangan terakhir, telah mengkonfrimasi adanya sinyal tren penurunan harga dalam jangka pendek. Selain itu, dengan masih belum terlihatnya sinyal indikator jenuh jual (over sold), maka potensi penurunan lanjutan terhadap harga Surat Utang Negara dalam jangka pendek masih terbuka,” tandas I Made.

