Volume SBN Diperdagangan Selasa Kemarin Senilai Rp7,89 Triliun dari 36 Seri
Pasardana.id - Volume perdagangan Surat Berharga Negara (SBN) yang dilaporkan pada perdagangan kemarin (11/12), tercatat senilai Rp7,89 triliun dari 36 seri Surat Berharga negara yang diperdagangkan dengan volume perdagangan seri acuan senilai Rp3,20 triliun.
Dalam riset yang dirilis Rabu (12/12/2018), analis fixed income MNC Securities, I Made Adi Saputra mengungkapkan, Obligasi Negara seri FR0075 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp1,065 triliun dari 60 kali transaksi di harga rata - rata 91,33% yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0063 senilai Rp1,063 triliun dari 12 kali transaksi di harga rata - rata 90,97%.
Adapun Project Based Sukuk seri PBS006 menjadi Sukuk negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp40,00 miliar dari 2 kali transaksi di harga rata - rata 101,16% yang diikuti oleh perdagangan seri PBS012 senilai Rp 35,60 miliar dari 5 kali transaksi.
Dari perdagangan surat utang korporasi, volume perdagangan yang dilaporkan senilai Rp761,50 miliar dari 48 seri surat utang korporasi yang diperdagangkan.
Obligasi II Bussan Auto Finance Tahun 2018 Seri A (BAFI02A) menjadi surat utang korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp100,00 miliar dari 2 kali transaksi di harga rata - rata 99,16% yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Berkelanjutan Indonesia Eximbank IV Tahap I Tahun 2018 Seri A (BEXI04ACN1) senilai Rp80,00 miliar dari 2 kali transaksi di harga rata - rata 97,75%.
Sementara itu, Sukuk Ijarah I Angkasa Pura I Tahun 2016 Seri C (SIAPAI01C) menjadi sukuk korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp36,00 miliar dari 2 kali transaksi di harga rata - rata 93,92% dan diikuti oleh perdagangan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan Indonesia Eximbank I Tahap II Tahun 2018 Seri B (SMBEXI01BCN2) senilai Rp6,00 miliar dari 4 kali transaksi di harga rata - rata 99,94%.
Sementara itu, nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika pada perdagangan kemarin kembali ditutup dengan mengalami pelemahan, sebesar 54,50 pts (0,37%) di level 14607,50 per Dollar Amerika.
Bergerak dengan mengalami pelemahan sepanjang sesi perdagangan pada kisaran 14605,30 hingga 14655,00 per Dollar Amerika, pelemahan nilai tukar Rupiah terjadi di tengah pergerakan mata uang regional yang cukup bervariasi terhadap Dollar Amerika.
Selain mata uang Rupiah, pelemahan didapati pada mata uang Rupee India (INR) sebesar 0,73% dan diikuti oleh mata uang Ringgit Malaysia (MYR) sebesar 0,31%. Melemahnya mata uang Rupee turut dipengaruhi oleh pengunduran diri dari Gubernur Bank Sentral India (RBI), Urjit Patel.
Mata uang regional yang terlihat menguat terhadap Dollar Amerika pada perdagangan kemarin adalah Yen Jepang (JPY) dan Yuan China (CNY) berturut - turut sebesar 0,24% dan 0,13%.
Imbal hasil Surat Utang Global pada perdagangan kemarin ditutup dengan kecenderungan mengalami kenaikan yang dipimpin oleh kenaikan imbal hasil US Treasury.
Pada perdagangan di hari Selasa, imbal hasil US Treasury dengan tenor 10 tahun dan 30 tahun masing - masing ditutup dengan mengalami kenaikan di level 2,892% dan 3,139% di tengah optimisme pelaku pasar terhadap kesepakatan tarif antara China dengan Amerika Serikat.
Sementara itu, imbal hasil surat utang Inggris dan Jerman ditutup dengan penurunan masing - masing di level 1,189% dan 0,233% di tengah ketidakpastian politik di kawasan Uni Eropa seiring dengan tertundanya pengambilan suara terhadap rencana Brexit.
Imbal haisl surat utang jepang dan Singapura pada perdagangan kemarin ditutup dengan kenaikan, masing - masing di level 0,043% dan 2,257%.

