Imbal Hasil SUN Diperdagangan Akhir Pekan Kembali Naik, Berkisar 2 - 7 bps

foto : istimewa

Pasardana.id - Imbal hasil Surat Utang Negara pada perdagangan akhir pekan lalu, Jum'at, 7 Oktober 2016, kembali mengalami kenaikan jelang pengumuman data sektor tenaga kerja Amerika.

Perubahan tingkat imbal hasil berkisar antara 2 - 7 bps dengan rata - rata mengalami kenaikan sebesar 3 bps dimana kenaikan imbal hasil yang cukup besar terjadi pada tenor menengah dan panjang.

Imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor pendek (1-4 tahun) mengalami kenaikan berkisar antara 3 - 4 bps setelah mengalami koreksi harga sebesar4 - 15 bps. Sementara itu imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor menengah (5 - 7 tahun) mengalami kenaikan berkisar antara 3 - 7 bps dengan didorong oleh adanya penurunan harga yang berkisar antara 15 - 30 bps serta imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor panjang (di atas 7 tahun) yang mengalami perubahan berkisar antara 2 - 6 bps dengan adanya perubahan harga yang berkisar antara 20 - 45 bps.

Menurut analis fixed income MNC Securities, I Made Adi Saputra, harga Surat Utang Negara yang kembali mengalami koreksi pada perdagangan di akhir pekan kemarin, terjadi seiring dengan kecenderungan koreksi harga surat utang global pada perdagangan di hari Kamis, dengan spekulasi atas akan dikuranginya pembelian aset obligasi (tapering off) oleh Bank Sentral Eropa (ECB) sebelum berakhirnya stimulus moneter serta semakin menguatnya peluang kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika (Fed Fund Rate/FFR) seiring dengan membaiknya indikator perekonomian Amerika Serikat.

Sementara itu, lanjut I Made, posisi cadangan devisa Indonesia akhir September 2016 tercatat sebesar US$115,7 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan posisi akhir Agustus 2016 yang sebesar US$113,5 miliar. Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi oleh penerimaan cadangan devisa, antara lain berasal dari penerimaan pajak dan devisa migas, penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, dan hasil lelang Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI) valas, serta airan modal asing yang masuk di pasar keuangan dalam negeri melampaui kebutuhan devisa untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan SBBI valas jatuh tempo.

"Dengan posisi cadangan devisa per akhir September 2016 tersebut cukup untuk membiayai 8,9 bulan impor atau 8,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah," ujarnya.

Secara keseluruhan, sambung dia, koreksi harga yang terjadi pada perdagangan di akhir pekan kemarin telah mendorong terjadinya kenaikan imbal hasil Surat Utang Negara seri acuan sebesar 7 bps untuk tenor 5 tahun di level 6,889%; sebesar 6 bps di level 7,074% untuk seri acuan dengan tenor 10 tahun, sebesar 4 bps di level 7,299% untuk seri acuan dengan tenor 15 tahun dan sebesar 3 bps di level 7,407% untuk seri acuan dengan tenor 20 tahun.