Pelemahan Rupiah dan Kenaikan Imbal Hasil Surat Utang Global Dorong Kenaikan Imbal Hasil SUN Diperdagangan Selasa Kemarin

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika serta pergerakan imbal hasil surat utang global yang cenderung mengalami kenaikan, mendorong kenaikan imbal hasil Surat Utang Negara pada perdagangan hari Selasa, tanggal 11 Desember 2018 kemarin.

Dalam riset yang dirilis Rabu (12/12/2018), analis fixed income MNC Securities, I Made Adi Saputra mengungkapkan, pergerakan imbal hasil Surat Utang Negara yang cenderung mengalami kenaikan pada perdagangan kemarin (11/12) didorong oleh berlanjutnya pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika serta pergerakan imbal hasil surat utang global yang cenderung mengalami kenaikan.

“Dalam sepekan terakhir, nilai tukar Rupiah telah mengalami pelemahan sebesar 2,16% menjadi faktor yang mendorong terjadinya koreksi harga Surat Utang Negara di pasar sekunder sehingga berdampak terhadap kenaikan imbal hasilnya,” ujar I Made.

Ditambahkan, kekhawatiran investor terhadap prospek perdagangan global di tengah perang dagang antara China dan Amerika Serikat serta ketidakpastian politik di kawasan Uni Eropa menjadi katalis eksternal yang mempengaruhi pergerakan harga Surat Utang Negara.

“Pelaku pasar pada perdagangan kemarin cenderung menahan diri untuk melakukan transaksi, yang tercermin pada penurunan volume perdagangan seiring dengan tren penurunan harga yang terjadi di pasar sekunder,” jelas I Made.

Baca juga : Volume SBN Diperdagangan Selasa Kemarin Senilai Rp7,89 Triliun dari 36 Seri

Lebih rinci diungkapkan, kenaikan imbal hasil yang terjadi hingga sebesar 17 bps dengan rata - rata mengalami kenaikan sebesar 5,5 bps dimana kenaikan yang cukup besar terjadi pada tenor 8 tahun hingga 20 tahun.

Imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor pendek mengalami kenaikan hingga sebesar 4 bps dikarenakan adanya penurunan harga hingga sebesar 9 bps.

Sementara itu, kenaikan imbal hasil hingga sebesar 5 bps didapati pada Surat Utang Negara dengan tenor menengah yang didorong oleh adanya koreksi harga hingga sebesar 25 bps.

Sedangkan adanya penurunan harga yang mencapai 125 bps pada Surat Utang negara dengan tenor panjag telah menyebabkan adanya kenaikan imbal hasilnya hingga mencapai 17 bps.

Kenaikan imbal hasil juga didapati pada keseluruhan Surat Utang Negara seri acuan, dimana tenor 5 tahun mengalami kenaikan sebesar 2 bps di level 8,077% dan tenor 20 tahun mengalami kenaikan sebesar 7 bps di level 8,502%.

Adapun untuk seri acuan dengan tenor 10 tahun dan 15 tahun mengalami kenaikan masing - masing sebesar 17 bps di level 8,240% dan 8,360%.

Sementara itu, dari perdagangan Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika, perubahan tingkat imbal hasilnya cenderung mengalami penurunan seiring dengan membaiknya persepsi risiko yang tercermin pada penurunan angka Credit Default Swap (CDS).

Penurunan imbal hasil yang terjadi cenderung terbatas, karen pada saat yang sama, imbal hasil surat utang global justru bergerak dengan kecenderungan mengalami kenaikan.

Imbal hasil INDO28 dan INDO43 mengalami penurunan kurang dari 1 bps masing - masing berada di level 4,703% dan 5,308%. Adapun imbal hasil INDO22 mengalami penurunan hingga sebesar 2 bps di level 4,087%.