ANALIS MARKET (11/11/2019) : IHSG Berpeluang Bergerak Menguat dan Ditradingkan Pada Level 6.141 – 6.245

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pada perdagangan hari Jumat 08/11/2019 IHSG ditutup menguat 12 poin atau sebesar 0,20% ke level 6.177. Sektor properti, barang konsumsi menjadi kontributor terbesar pada kenaikan IHSG kemarin. Investor asing mencatatkan penjualan sebesar 989 miliar rupiah.

Adapun sentiment yang menjadi sorotan pelaku pasar diperdagangan awal pekan akan diawali dari;

1.TRUMP TIDAK SETUJU UNTUK MEMUTAR BALIK TARIF!

Lagi lagi dan lagi lagi untuk kesekian kalinya, entah untuk yang keberapa kalinya, lagi lagi pasar di buat PHP akan perang dagang antara Amerika dan China. Kali ini Trump mengatakan bahwa Amerika belum setuju untuk memutar kembali tarif yang sebelumnya dikenakan oleh Amerika terhadap China. Harapan yang tadinya diajukan oleh China dan Amerika untuk mengamankan perjanjian perang dagang antara China dan Amerika tampaknya mungkin akan kandas ditengah jalan. Trump mengatakan bahwa China menginginkan penurunan tarif, namun saya belum menyetujui apapun. China ingin mendapatkan sedikit penurunan terhadap tarif, namun bukan dalam arti semua tarif diturunkan, karena China tahu, saya tidak akan mungkin melakukannya. Seketika optimis berubah menjadi pesimis. Juru bicara Departement Perdagangan China, Gao Feng mengatakan bahwa negosiator telah mendiskusikan dan mereka setuju untuk menghapuskan tarif tambahan secara bertahap karena kemajuan yang telah dicapai dalam mencapai sebuah kesepakatan. Tidak hanya itu saja, Larry Kudlow juga mengatakan bahwa jika ada perjanjian perdagangan fase satu, maka akan ada perjanjian mengenai tarif dan konsesi. Trump menjelaskan pada hari Jumat lalu bahwa Amerika belum mencapai kesepakatan dan menekankan bahwa Trump tidak akan menghilangkan semua tarif. Ada harapan tersendiri terkait dengan tarif yang akan dijadwalkan pada tanggal 15 December nanti tidak akan berlaku sebagai bagian dari perjanjian awal, yang dimana tarif tersebut mencakup smartphone dan mainan. Tarif yang tetap berlaku adalah tarif 15% untuk barang tambahan senilai $110 miliar yang mulai berlaku 1 September kemarin. Kami melihat lagi lagi hal ini sebagai sebuah permainan antara Amerika dan China, karena kami menyadari bahwa setiap sentiment yang muncul dari kedua belah pihak, mampu membuat gejolak di pasar, baik positif maupun negative sentiment tersebut. Sehingga seperti yang kami juga sudah duga sebelumnya, bahwa dampak dibatalkanya pertemuan di Chili kemarin justru meningkatkan ketidakpastian, dan itu yang kita alami saat ini. Bukan hanya itu saja, dengan adanya komentar Trump tersebut, justru berpotensi memperpanjang fase ketidakpastian hingga bulan Desember nanti karena besar kemungkinan kesepakatan akan ditandatangani pada bulan December. Sebagai penutup, komentar mengenai perang dagang antara Amerika dan China, Trump hanya mengatakan bahwa pembicaraan perdagangan antara Amerika dengan China berjalan dengan sangat baik, dan para pemimpin China justru malah menginginkan kesepakatan lebih dari pada yang saya inginkan. Jika kita tidak membuat kesepakatan dengan benar, maka kita tidak akan membuat kesepakatan. Sejauh ini masih banyak yang positif yang terjadi!.

2.FASTEN YOUR SEATBELT!

Pekan ini akan menjadi pekan yang cukup panjang, dan mungkin saja akan menjadi pekan yang cukup sulit. Mari kita mulai dengan data makro ekonomi Indonesia yang akan hadir pada tanggal 15 November nanti yang dimana data yang akan muncul adalah Exports, Imports, dan Trade Balance. Sejauh ini kami melihat trade balance berpotensi untuk mengalami penurunan kembali. Hal ini akan menjadi perhatian para pelaku pasar setelah sebelumnya data GDP Indonesia meskipun data yang keluar tidak seburuk consensus tapi hasilnya tetap saja mengecewakan pasar. Setelah penantian akan data ekonomi dalam Negeri, focus berikutnya akan beralih kepada data ekonomi luar Negeri. Salah satunya dari England yang dimana Moody’s menurunkan outlook England menjadi negative. Meskipun belum ada penurunan rating, tapi hal ini sudah cukup memberikan impact dan perhatian akan ekonomi Inggris. Moodys menilai bahwa Pemerintah tidak memiliki komitmen terhadap displin fiscal dan tidak mampu menetapkan beberapa kebijakan Brexit yang hingga hari ini masih terkantung kantung, dan tidak jelas kapan Brexit ini akan selesai. Semua hal tentang deadline hanyalah sebuah kata kata yang bisa ditoleransi dengan adanya perpanjangan waktu. England juga akan mengeluarkan data GDP yang dimana secara YoY diperkirakan akan mengalami penurunan dari sebelumnya 1.3% menjadi 1.1%. Pada akhirnya, perekonomian England terkena efek samping proses Brexit. Penurunan GDP ini mungkin akan menjadi yang terendah sejak 2012 silam yang dimana GDP England berada di 1.1% atau sama dengan 2018 kuartal 1 lalu. Siap dengan berita terburuknya? Jerman pada tanggal 14 nanti akan mengeluarkan data GDP yang dimana sebelumnya sudah terkontraksi secara QoQ yaitu berada di -0.1%, meskipun secara YoY masih berada dikisaran 0.4%. Data Jerman ini akan menjadi sebuah tanda apakah Jerman akan memasuki fase resesi pada kuartal ke 3 atau tidak. Ini akan menjadi pelemahan GDP terburuk dari jerman sejak 2015 silam lalu dimana GDP Jerman berada di -0.2%, meskipun kuartal berikutnya berangsur angsur sudah mengalami pemulihan. Tentu kita berharap bahwa Jerman mampu melewati ini dengan baik, kalaupun Jerman mengeluarkan data Negatif pada tanggal 14 November nanti, tetap kita semua harus menunggu data Final pada tanggal 22 November nanti. Dari Eropa kita akan bergeser kepada Trump dan Powell yang akan berbicara pekan ini. Trump akan menyampaikan pidatonya di hadapan Economic Club of New York pada hari Selasa nanti, dihadapan para Investor, Trump diperkirakan akan menjelaskan kesepakatan awal yang direncanakan sebelumnya dengan China. Setiap informasi yang disampaikan oleh Trump akan menjadi bahan yang akan disampaikan oleh Powell ketika dia juga hendak menyampaikan kesaksiannya dihadapan anggota parlemen di Washington pada hari Rabu dan Kamis, ini merupakan penampilan pertama Powell sejak Bank Sentral Amerika memangkas tingkat suku bunganya bulan lalu. Hal ini juga akan menjadi cerminan apakah Powell akan berhenti menurunkan tingkat suku bunganya tahun ini ataukah masih ada potensi satu kali lagi pada akhir tahun nanti.

3.BANK INDONESIA MENYAMPAIKAN CAPITAL INFLOW TEMBUS IDR 226 T SECARA YTD!

Modal asing ini masuk sebagian besar ke obligasi pemerintah surat berharga negara sebesar Rp175 triliun, ke instrumen saham sebesar Rp49 triliun, dan sisanya ke obligasi korporasi serta instrumen keuangan lainnya. Meskipun pasar saham belum menarik secara inflow namun beberapa perbaikan kinerja dari fundamental dalam negeri saat ini dapat menjadi trigger bagi optimisme pada pasar saham. Bank Indonesia melaporkan kinerja current account deficit yang lebih rendah dari periode sebelumnya. Dimana pada kuartal III CAD menjadi 2.66% - 2.7% hal tersebut lebih baik dari kuartal II dimana CAD berada pada 2.98% - 3% dari PDB. Sehingga deficit anggaran lebih rendah dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang berada pada US$ 2.0 miliar. Perbaikan pada ekspor dan impor masih mencatat perlambatan pertumbuhan karena didorong oleh pertumbuhan ekonomi dalam negeri yang lebih lambat. Dengan harapan konsumsi dan investasi berbagai proyek strategis dapat selesai pada kuartal IV, pertumbuhan dan daya beli masyarakat diharapkan dapat lebih baik, sehingga menjadi penopang pertumbuhan selama tahun 2019.

“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat saat ini IHSG memiliki peluang bergerak menguat dan ditradingkan pada level 6.141 – 6.245,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Senin (11/11/2019).