ANALIS MARKET (12/12/2019) : Pasar Obligasi Berpotensi Rebound
Pasardana.id - Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pasar obligasi pada akhirnya tak kuasa menahan penurunan yang terjadi kemarin.
Cukup dalam memang, namun masih dalam batas toleransi wajar. Namun penurunan tersebut sudah cukup untuk membuktikan bahwa trend pasar obligasi secara jangka pendek hingga menengah telah berubah. Yang tadinya trend penurunan imbal hasil baik jangka waktu pendek, menengah, hingga panjang, namun saat ini sudah terkonfirmasi bahwa trend telah berubah, sehingga imbal hasil secara durasi waktu trend jangka pendek dan menengah akan mengalami kenaikkan, meskipun secara jangka panjang imbal hasil masih dalam trend menurun.
Fokus utamanya adalah tetap memperhatikan setiap sentiment yang ada, karena akan memberikan arah bagi pergerakan pasar obligasi pada hari ini.
Lebih lanjut analis Pilarmas menilai, diperdagangan Kamis (12/12) pagi ini, pasar obligasi diperkirakan akan dibuka melemah dengan potensi melemah terbatas. Keterbatasan ini akan datang dari koreksi yang mulai mendekati garis supportnya.
Adapun cerita hari ini akan kita awali dari;
1.THE FED
Pada akhirnya penantian telah tiba, bahwa The Fed tidak akan mengubah tingkat suku bunga, dan memberikan kode bahwa tingkat suku bunga The Fed akan ditahan hingga 2020. Hal ini berarti berpotensi tidak akan ada perubahan hingga Pemilu Presiden Amerika yang dijadwalkan tahun depan. Powell mengatakan bahwa prospek ekonomi Amerika tetap menguntungkan meskipun ada perkembangan global dan resiko yang berkelanjutan. Sejauh ini informasi yang masuk mengenai ekonomi tetap konsisten dalam arti luas, sehingga menjadi pandangan yang kami gunakan saat ini, dan tentu saja sikap kami akan kebijakan moneter saat ini sudah sesuai. Ditengah pidato Powell, imbal hasil US Treasury 10y turun kebawah 1.8%, Dollar bergerak menguat yang didukung oleh kenaikkan indeks saham. Powell juga memberikan indikasi bahwa tidak akan ada perubahan tingkat suku bunga hingga tahun depan. Secara Fed Plot, kenaikkan tingkat suku bunga baru berpotensi akan terjadi pada tahun 2021. Sejauh ini The Fed terus memantau data ekonomi yang masuk, yang dimana didalamnya ada perkembangan global dan tekanan inflasi yang melemah. Namun sejauh ini Powell selalu mengatakan bahwa ekonomi Amerika dan kebijakan moneternya saat ini berada di tempat yang baik. Sejauh ini respon The Fed terhadap perkembangan ekonomi global juga sangat baik, apalagi ditengah tengah kekhawatiran ekonomi akibat perang dagang antara Amerika dan China, Brexit yang masih belum ada keputusan akhir, namun kebijakan The Fed mampu membuktikan bahwa kebijakan moneternya mampu mendorong tingkat pertumbuhan. Dari peserta yang hadir, 13 pejabat The Fed mengatakan bahwa tingkat suku bunga akan ditahan tahun depan, dan 4 diantaranya melihat ada kenaikkan tingkat suku bunga. Selain itu juga tingkat pengangguran diharapkan menjadi 3.5% pada akhir 2020 nanti. Powell juga mengatakan bahwa Powell lebih memilih untuk membiarkan inflasi mengalami kenaikkan dan terus berada diatas target dari Bank Sentral sebelum kembali mempertimbangkan kenaikkan tingkat suku bunga di masa depan. Memang sejauh ini kami melihat bahwa inflasi US saat ini mengalami kenaikkan, dari sebelumnya 1.8% sekarang menjadi 2.1% secara YoY. Tentu hal ini merupakan sebuah target yang tercapai. Pertanyaannya adalah apakah kenaikan inflasi tersebut konsisten atau tidak. Ringkasan ekonomi untuk 2020 adalah GDP US akan berada di 2%, pengangguran di 3.5%, dan inflasi inti 1.9 secara tingkat PCE indicator. Sejauh ini kami melihat bahwa apa yang dilakukan The Fed sudah sangat baik, dan kami melihat bahwa meskipun ada tekanan, namun US tetap optimis terhadap ekonominya tahun depan. Namun kami masih akan melihat bahwa keputusan perang dagang tetap akan menjadi salah satu booster, entah negative atau positif, tergantung bagaimana hasil tersebut.
2.PEMILU INGGRIS
Hari Kamis ini Inggris akan mengadakan Pemilu untuk ketigakalinya dalam empat tahun terakhir, dan sebagian besar pasar menginginkan tempat mayoritas kepada Partai Konservatif Boris Johnson. Sejauh ini melalui jajak pendapat, diperkirakan bahwa Partai Konservatif akan mendapatkan 339, Partai Buruh 231, Partai Nasional Skotlandia 41, dan Demokrat Liberal 15. Sejauh ini para pejabat di Uni Eropa secara pribadi menginginkan Johnson bisa menang untuk mengakhiri Brexit yang tidak pernah ada ujungnya. Oleh sebab itu hari ini mungkin akan menjadi focus perhatian pasar, dan tentu saja siapapun partai yang memenangkan pemilu tersebut, diharapkan dapat mengakhiri Brexit. Ketika Brexit dapat diakhir, berarti satu masalah ketidakpastian telah usai. Sehingga focus utama akan beralih kepada perjanjian dagang antara Amerika dan China. Sejauh ini kami masih optimis bahwa Brexit bisa terjadi pada tahun depan.
3.PESAN BANK DUNIA UNTUK INDONESIA
Bank dunia menyampaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga akhir tahun cenderung melandai. Dalam rilisnya diperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2019 hanya tumbuh 5%. Hal ini disampaikan saat Bank Dunia (World Bank) merilis laporan kuartalan edisi Desember 2019, dalam rilisnya mengungkapkan proyeksi Bank Dunia terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5% pada tahun 2019 dan 5,1% pada 2020. Kondisi perekonomian global yang tidak baik akibat ketegangan perdagangan internasional berimbas pada melambatnya penggerak pertumbuhan domestik Indonesia. Atas hal tersebut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan bahwa kondisi ketidakpastian dunia memberikan tekanan terhadap ekonomi global yang juga berpengaruh terhadap ekonomi Indonesia. Namun di tengah ketidakpastian tersebut Sri Mulyani menilai kondisi ekonomi Indonesia terbilang cukup tangguh. Ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh stabil di 5% di tengah turunnya pertumbuhan ekonomi negara lain yang cukup dalam. Namun kalau hanya tumbuh stabil saja tidak cukup, harus ada usaha yang lebih banyak lagi dari Pemerintah untuk mendorong tingkat pertumbuhan ekonomi. Tentu ditengah turunnya pertumbuhan ekonomi Negara lain, Indonesia masih bisa bertahan di 5%, namun kalau terus menerus berada di 5%, apakah kita cukup puas? Kalau kita puas, maka ekonomi Indonesia tidak akan bergerak kemana mana, akan selalu berada di tempat yang sama. Kami ingin melihat langkah yang lebih konkret dari Pemerintah untuk jangka waktu pendek.
“Kami merekomendasikan wait and see hari ini, karena pasar obligasi tengah mendekati garis support sehingga berpotensi untuk rebound,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Kamis (12/12/2019).

